Tampilkan postingan dengan label Ayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ayah. Tampilkan semua postingan
Ayah pasti khawatir
kan ketika aku bilang aku sedang sakit?
Memikirkan apakah
aku makan dengan baik, hidup dengan baik
Ayah pasti khawatir
di sana
Bagaimana bisa aku
selalu pura-pura menyembunyikan bahwa aku tidak baik-baik saja?
Sebagai manusia, aku
mempunyai batas untuk bersikap baik-baik saja
Aku lelah berucap
aku baik-baik saja
Aku tidak baik-baik
saja, ayah
Aku sakit
Aku sakit dan butuh
kasih sayang
Aku merindukan rumah
Aku tidak butuh
obat, ayah
Aku butuh engkau di
sisiku
1 Februari 2014
Ayah Part II
Ayah. Apa yang bisa
ku katakan mengenai dia? Dia bahkan terlalu sempurna untuk dikategorikan
sebagai ayah.
Ayah. Apa yang tidak
bisa kubanggakan dari dia. Seorang pemimpin keluarga yang selalu puasa
Senin-Kamis semenjak remaja. Seorang pemimpin yang tidak pernah melewatkan
sholat fardu dan sunnah.
Ayah. Apa yang tidak
bisa dia kerjakan. Menyapu, mengepel, memasak, sudah pernah dia jalani.
Memanjat pohon, bahkan berkebun.
Ayah. Apa yang tidak
dia tahu. Peta Indonesia bahkan peta dunia dia lahap. Sejarah, ekonomi, sosial,
budaya, dia anggap enteng.
Ayah. Apa yang tidak
dia baca. Koran menjadi santapan sehari-hari.
Hanya satu yang
tidak bisa dia lakukan. Dia tidak bisa bersedih di depan anak dan istrinya.
Ayah tidak pernah menangis, ayah tidak pernah marah, ayah tidak pernah
mengeluh. Ayah tidak pernah menyuruh, ayah hanya akan meminta.
Ayah. Makhluk
sempurna calon penghuni surga itu, ayahku, aku mencintaimu.
Ayah
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
