"Bahwa di dunia
ini, untuk menjadi yg terbaik, kompetitor sejati kita tidak pernah datang dari
luar, tapi bagaimana mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan ketakutan,
mengalahkan perasaan gentar, mengalahkan kemalasan, mengalahkan tinggi hati
tidak mau belajar dan mengakui orang lain lebih baik, mengalahkan semua
batasan-batasan yg mengekang diri sendiri. Sekali itu berhasil dikalahkan,
hanya soal waktu kita akan jadi yang terbaik." - Tere Liye
Today's Quote
Cita-cita, sesuatu
yang kau inginkan yang suatu saat nanti kau harap akan terjadi. Benar? Emm,
sebenarnya tidak sepenuhnya begitu.
Dari dulu, sejak gue
kecil, gue selalu menjawab cita-cita gue adalah menjadi seorang dokter. Siapa
sih yang tidak mau menjadi dokter? Meskipun beberapa tahun kemudia gue sangat
yakin gue ngga mau menjalani profesi mengerikan itu.
Gue adalah seorang
putri dari pasangan yang bekerja di bidang kesehatan. Oleh karena itu, entah
itu mempengaruhi atau tidak, sejak kecil sudah menjadi mindset di otak gue kalau suatu hari nanti gue ingin menjadi
seorang dokter. Tidak salah memang, itu hanya pemikiran murni seorang bocah
berusia sepuluh tahun yang masih belum mengetahui dunia luar secuil pun.
Well, ngomongin cita-cita, gue bahkan masih
bingung apa sebenernya cita-cita gue, yah setelah cita-cita murni waktu kecil
gue itu. Banyak sekali hal di dunia ini yang mau gue capai. Itu termasuk
cita-cita bukan? Gue sendiri masih bingung definisi dari cita-cita. Apakah itu
harus sesuatu yang besar? Sesuatu yang sepertinya mustahil tapi bisa kau raih?
Sesuatu seperti keajaiban dari kerja keras? I
don't know. Not really know. Menurut gue sih, selama itu menjadi apa
yang gue inginkan, itu yang akan menjadi cita-cita gue.
Nah, gue punya
definisi sendiri soal cita-cita. Ini pendapat gue, yang pasti tidak turut
menyertakan teori dari siapapun. Oke, cekidot!
Yang pertama,
kategori cita-cita yang sangat mustahil tercapai kecuali ada keajaiban tingkat
dewa yang membuatmu menjadi presiden Amerika dalam waktu sepuluh detik setelah
bangun tidur. Ini merupakan cita-cita yang sangat sangat sangat tiga puluh enam
kali, mustahil. Gue menyukai segala hal tentang luar angkasa. Nah, cita-cita
mustahil dalam hal ini adalah, gue berharap gue bisa menerbangkan, dan
mempunyai tentunya, pesawat luar angkasa dan bisa 'jalan-jalan' di kehidupan
lain di luar sana. Gue mempunyai cita-cita menjadi anggota NASA atau apapun itu
tentang luar angkasa. Well, bisa lihat
sendiri, itu merupakan cita-cita yang sangat sangat sangat tiga puluh enam
kali, mustahil tercapai. Mungkin bagi secuil orang genius,hal tersebut bisa
saja terjadi. Tapi bagi gue, yang masih belum ngerti teori grafitasi yang super
dahsyat itu, yah, bagai pungguk merindukan bulan, seperti itulah.
Yang kedua, kategori
cita-cita yang bisa kau raih tapi bukan yang kau inginkan. Ini seperti
cita-cita orang lain yang ditumpahkan kepadamu. Nah, menurut pengamatan,
biasanya cita-cita seperti ini adalah cita-cita orang tua yang ingin anaknya
menjadi seperti ini, seperti itu, tanpa mendengarkan dulu apa sebenarnya yang
diinginkan si anak. Well, sepertinya
kebanyakan orang tua memang begitu, bukan? Contohnya, gue sekarang ini kuliah
di fakultas pendidikan. Mau tak mau, pekerjaan yang ada di depan gue adalah
menjadi guru. Nah, sebenarnya di dalam hati kecil gue, gue ngga pengen jadi
guru. Sebenarnya, ehm, itu salah satu cita-cita orang tua gue, agar anaknya
bisa menjadi guru. Dan PNS tentunya. Siapa sih orang tua yang tidak bangga
anaknya menjadi guru? PNS pula.
Yang ketiga,
cita-cita yang murni ada dalam hatimu. Cita-cita kategori ini merupakan
cita-cita yang indah yang mungkin bisa terjadi, mungkin juga tidak. Bisa sih,
kalau kamu bisa berusaha dan yah, sedikit membanting tulangmu. Kalau tidak,
terus saja berharap sampai lebaran semut datang. Misalnya nih ya, gue pengen
banget nantinya bisa ngelanjutin S2 ke luar negeri. Ini cita-cita paling mulia
yang gue rasain. Tapi, untuk menggapai semua itu, yang pasti gue harus belajar
terutama belajar bahasa Inggris. Apalagi dana yang dibutuhkan untuk sekolah di
luar negeri itu tidak sedikit. Sukur-sukur dapat beasiswa hidup dan sekolahnya.
Semoga. (AMIIIN!)
Begitulah kira-kira
kategori cita-cita menurut gue. Ini bukan sesuatu yang harus kau percayai. Yang
utama, kau harus tau sesuatu entah namanya cita-cita atau apapun, kau harus tau
apa yang harus kau capai di hidupmu. Hidup hanya sekali, isn't it? Kecuali kau
merupakan jelmaan kucing yang bisa hidup tujuh kali. Well, hiduplah dengan baik. Gapai semua yang kau inginkan. See
ya!
Cita-cita?
Siang yang panas. Kemarau sepertinya mulai menjalar di
tengah-tengah hujan yang terkadang masih turun di malam hari. Seperti yang
diramalkan di berita tadi pagi, hujan sepertinya enggan menyapa hari ini. Hanya
matahari satu-satunya yang ada di atas sana. Menambah peluh orang yang berjalan
berlalu-lalang tanpa menggunakan alas kepala.
Aku tak suka
panas. Aku lebih memilih kehujanan daripada harus berjemur di bawah terik matahari.
Sinar matahari itu serasa membakar kulitku dan aku lebih menyukai air yang mengguyur bumi
daripada sinar ultraviolet yang menyengat.
Well, aku sedang menunggu seseorang. Aku
sekarang sedang berdiri di bawah pohon yang bunganya berwarna putih. Entah apa
namanya. Yang pasti pohon ini berjajar di sepanjang jalan ini. Di musim
kemarau, bunga-bunganya mulai rontok. Memenuhi jalanan dengan kelopaknya yang
layu, tidak kalah menarik dengan bunga sakura di musim gugur. Sayangnya tidak
banyak orang yang menyukai hal-hal seperti itu.
Tempat ini
sebenarnya cukup luas. Rumputnya tertata rapi karena petugas kebersihan rajin
membersihkannya. Bangku-bangku panjang berjejer di sepanjang pagar yang
memisahkan bagian dalam dan luar taman. Taman? Hmm, mungkin bisa dibilang
seperti itu.
Ku putar
kepalaku tiga ratus enam puluh derajat. Apakah hanya aku satu-satunya orang
yang ada di sini? Sepertinya tempat ini memang tidak selalu ramai. Jam berapa
ini? Mungkin jam 12, atau jam 1? Sepertinya orang-orang sedang mengisi perut
mereka di tempat-tempat makan. Sepi sekali. Di hari libur pun taman ini jarang
sekali terlihat pengunjungnya. Apalagi di hari kerja.
Orang yang
ku tunggu belum datang. Kalian bertanya siapa yang ku tunggu? Yah, aku menunggu
ibuku. Ibuku itu, satu-satunya orang yang tidak pernah mengeluh dan selalu
memberikan apa yang ku mau. Di zaman sekolah dulu, beliau selalu membawakanku
bekal. Takut kalau aku keseringan jajan di luar yang katanya tidak sehat lah,
banyak bahan kimia lah. Kekanakan? Tidak. Beliau memang sangat memperhatikan
asupan makananku. Maklum, ibuku adalah seorang perawat. Beliau bekerja di rumah
sakit di kota kecil ini.
Hm, aku
berharap kali ini ibu datang bersama ayah. Tapi, kasihan juga beliau.
Akhir-akhir ini beliau mengeluh tentang pinggangnya yang sering sakit. Mungkin
karena terlalu sering pulang pergi dari tempat kerjanya ke rumah, yang jaraknya
sekitar 50 kilometer. Dengan sepeda motornya yang sudah tua itu, setiap hari
ayah bekerja di luar kota. Ayahku seorang guru. Demi pengabdiannya kepada
negara, ayah tak pernah mengeluh jarak yang jauh untuk mencapai tempat
kerjanya.
Mereka
adalah hartaku yang paling berharga. Orang tuaku. Sejak aku pindah ke tempat
ini, ibu sering mengunjungiku. Paling tidak seminggu sekali dia pergi ke sini.
Sebenarnya aku kasihan kepada ibu. Tempat ini terlalu jauh dari rumahku. Tapi,
berapa kali ku cegah pun, ibuku akan tetap menjengukku. Benar-benar ibu yang
baik bukan?
Ku lihat
gerbang di sebelah kanan. Masih belum terbuka. Huh, terlambat setengah jam dari
biasanya. Aku bosan berada di sini. Andai saja ada yang bisa aku lakukan. Huft!
Mentari semakin menampakkan kekuasaannya di atas sana. Peluh semakin
bercucuran. Tak sedikit orang yang lalu lalang mengomel tak jelas tentang cuaca
hari ini.
Ku lihat
sekeliling sekali lagi. Ada segerombolan anak yang bermain layang-layang dengan
cerianya. Masa-masa itu, aku ingin kembali ke masa-masa ceria itu. Masa-masa di
mana aku bisa berlari, bermain, bernyanyi, sepuasku! Sekarang? Huh, apa
enaknya?
Semuanya
serba diatur. Semuanya serba berantakan. Iya bukan? Zaman sekarang mah serba individualis. Semua orang
serba mementingkan urusannya sendiri. Bahkan jarang sekali yang saling sapa
padahal mereka saling kenal. Ck! Untung ibuku bukan orang seperti itu. Oh,
sungguh beliau adalah ibu paling baik sedunia. Hehe. Agak melebih-lebihkan ya?
Nah, itu dia
ibu datang. Di tangan sebelah kirinya tertenteng tas kecil berwarna hitam.
Sedangkan di tangan kanannya tertenteng sebuah bungkusan. Hm, kira-kira apa ya?
Ketika ibu mendekat, aku tersenyum. Tapi sepertinya dia tidak melihat senyumku.
Ibu semakin memendekkan langkah
menujuku. Terlihat jelas wajah lelahnya. Keriput yang menghiasi wajah teduhnya
juga mulai bertambah. Ibu mengeluarkan bungkusan yang dibawanya. Bunga lili.
Bunga kesukaanku.
Ibu tersenyum. Ku balas senyum
singkatnya. Menurut ibu, senyumku sangat manis, karena aku mempunyai lesung
pipi. Lalu, diletakkan bungkusan itu di atas pusara yang bertuliskan namaku.
Ya, aku
sudah mati.
SELESAI
Lili Putih
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

