Hello, I'm Aji Nur Hakim. Welcome to my blog.
I write what I thought, and share what I wrote.
Read and enjoy!

"Bahwa di dunia ini, untuk menjadi yg terbaik, kompetitor sejati kita tidak pernah datang dari luar, tapi bagaimana mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan ketakutan, mengalahkan perasaan gentar, mengalahkan kemalasan, mengalahkan tinggi hati tidak mau belajar dan mengakui orang lain lebih baik, mengalahkan semua batasan-batasan yg mengekang diri sendiri. Sekali itu berhasil dikalahkan, hanya soal waktu kita akan jadi yang terbaik." - Tere Liye

Today's Quote

Cita-cita, sesuatu yang kau inginkan yang suatu saat nanti kau harap akan terjadi. Benar? Emm, sebenarnya tidak sepenuhnya begitu.

Dari dulu, sejak gue kecil, gue selalu menjawab cita-cita gue adalah menjadi seorang dokter. Siapa sih yang tidak mau menjadi dokter? Meskipun beberapa tahun kemudia gue sangat yakin gue ngga mau menjalani profesi mengerikan itu.

Gue adalah seorang putri dari pasangan yang bekerja di bidang kesehatan. Oleh karena itu, entah itu mempengaruhi atau tidak, sejak kecil sudah menjadi mindset di otak gue kalau suatu hari nanti gue ingin menjadi seorang dokter. Tidak salah memang, itu hanya pemikiran murni seorang bocah berusia sepuluh tahun yang masih belum mengetahui dunia luar secuil pun.

Well, ngomongin cita-cita, gue bahkan masih bingung apa sebenernya cita-cita gue, yah setelah cita-cita murni waktu kecil gue itu. Banyak sekali hal di dunia ini yang mau gue capai. Itu termasuk cita-cita bukan? Gue sendiri masih bingung definisi dari cita-cita. Apakah itu harus sesuatu yang besar? Sesuatu yang sepertinya mustahil tapi bisa kau raih? Sesuatu seperti keajaiban dari kerja keras? I don't know. Not really know. Menurut gue sih, selama itu menjadi apa yang gue inginkan, itu yang akan menjadi cita-cita gue.

Nah, gue punya definisi sendiri soal cita-cita. Ini pendapat gue, yang pasti tidak turut menyertakan teori dari siapapun. Oke, cekidot!

Yang pertama, kategori cita-cita yang sangat mustahil tercapai kecuali ada keajaiban tingkat dewa yang membuatmu menjadi presiden Amerika dalam waktu sepuluh detik setelah bangun tidur. Ini merupakan cita-cita yang sangat sangat sangat tiga puluh enam kali, mustahil. Gue menyukai segala hal tentang luar angkasa. Nah, cita-cita mustahil dalam hal ini adalah, gue berharap gue bisa menerbangkan, dan mempunyai tentunya, pesawat luar angkasa dan bisa 'jalan-jalan' di kehidupan lain di luar sana. Gue mempunyai cita-cita menjadi anggota NASA atau apapun itu tentang luar angkasa. Well, bisa lihat sendiri, itu merupakan cita-cita yang sangat sangat sangat tiga puluh enam kali, mustahil tercapai. Mungkin bagi secuil orang genius,hal tersebut bisa saja terjadi. Tapi bagi gue, yang masih belum ngerti teori grafitasi yang super dahsyat itu, yah, bagai pungguk merindukan bulan, seperti itulah.

Yang kedua, kategori cita-cita yang bisa kau raih tapi bukan yang kau inginkan. Ini seperti cita-cita orang lain yang ditumpahkan kepadamu. Nah, menurut pengamatan, biasanya cita-cita seperti ini adalah cita-cita orang tua yang ingin anaknya menjadi seperti ini, seperti itu, tanpa mendengarkan dulu apa sebenarnya yang diinginkan si anak. Well, sepertinya kebanyakan orang tua memang begitu, bukan? Contohnya, gue sekarang ini kuliah di fakultas pendidikan. Mau tak mau, pekerjaan yang ada di depan gue adalah menjadi guru. Nah, sebenarnya di dalam hati kecil gue, gue ngga pengen jadi guru. Sebenarnya, ehm, itu salah satu cita-cita orang tua gue, agar anaknya bisa menjadi guru. Dan PNS tentunya. Siapa sih orang tua yang tidak bangga anaknya menjadi guru? PNS pula.

Yang ketiga, cita-cita yang murni ada dalam hatimu. Cita-cita kategori ini merupakan cita-cita yang indah yang mungkin bisa terjadi, mungkin juga tidak. Bisa sih, kalau kamu bisa berusaha dan yah, sedikit membanting tulangmu. Kalau tidak, terus saja berharap sampai lebaran semut datang. Misalnya nih ya, gue pengen banget nantinya bisa ngelanjutin S2 ke luar negeri. Ini cita-cita paling mulia yang gue rasain. Tapi, untuk menggapai semua itu, yang pasti gue harus belajar terutama belajar bahasa Inggris. Apalagi dana yang dibutuhkan untuk sekolah di luar negeri itu tidak sedikit. Sukur-sukur dapat beasiswa hidup dan sekolahnya. Semoga. (AMIIIN!)


Begitulah kira-kira kategori cita-cita menurut gue. Ini bukan sesuatu yang harus kau percayai. Yang utama, kau harus tau sesuatu entah namanya cita-cita atau apapun, kau harus tau apa yang harus kau capai di hidupmu. Hidup hanya sekali, isn't it? Kecuali kau merupakan jelmaan kucing yang bisa hidup tujuh kali. Well, hiduplah dengan baik. Gapai semua yang kau inginkan. See ya!

Cita-cita?

           Siang yang panas. Kemarau sepertinya mulai menjalar di tengah-tengah hujan yang terkadang masih turun di malam hari. Seperti yang diramalkan di berita tadi pagi, hujan sepertinya enggan menyapa hari ini. Hanya matahari satu-satunya yang ada di atas sana. Menambah peluh orang yang berjalan berlalu-lalang tanpa menggunakan alas kepala.
            Aku tak suka panas. Aku lebih memilih kehujanan daripada harus berjemur di bawah terik matahari. Sinar matahari itu serasa membakar kulitku dan  aku lebih menyukai air yang mengguyur bumi daripada sinar ultraviolet yang menyengat.
            Well, aku sedang menunggu seseorang. Aku sekarang sedang berdiri di bawah pohon yang bunganya berwarna putih. Entah apa namanya. Yang pasti pohon ini berjajar di sepanjang jalan ini. Di musim kemarau, bunga-bunganya mulai rontok. Memenuhi jalanan dengan kelopaknya yang layu, tidak kalah menarik dengan bunga sakura di musim gugur. Sayangnya tidak banyak orang yang menyukai hal-hal seperti itu.
            Tempat ini sebenarnya cukup luas. Rumputnya tertata rapi karena petugas kebersihan rajin membersihkannya. Bangku-bangku panjang berjejer di sepanjang pagar yang memisahkan bagian dalam dan luar taman. Taman? Hmm, mungkin bisa dibilang seperti itu.
            Ku putar kepalaku tiga ratus enam puluh derajat. Apakah hanya aku satu-satunya orang yang ada di sini? Sepertinya tempat ini memang tidak selalu ramai. Jam berapa ini? Mungkin jam 12, atau jam 1? Sepertinya orang-orang sedang mengisi perut mereka di tempat-tempat makan. Sepi sekali. Di hari libur pun taman ini jarang sekali terlihat pengunjungnya. Apalagi di hari kerja.
            Orang yang ku tunggu belum datang. Kalian bertanya siapa yang ku tunggu? Yah, aku menunggu ibuku. Ibuku itu, satu-satunya orang yang tidak pernah mengeluh dan selalu memberikan apa yang ku mau. Di zaman sekolah dulu, beliau selalu membawakanku bekal. Takut kalau aku keseringan jajan di luar yang katanya tidak sehat lah, banyak bahan kimia lah. Kekanakan? Tidak. Beliau memang sangat memperhatikan asupan makananku. Maklum, ibuku adalah seorang perawat. Beliau bekerja di rumah sakit di kota kecil ini.
            Hm, aku berharap kali ini ibu datang bersama ayah. Tapi, kasihan juga beliau. Akhir-akhir ini beliau mengeluh tentang pinggangnya yang sering sakit. Mungkin karena terlalu sering pulang pergi dari tempat kerjanya ke rumah, yang jaraknya sekitar 50 kilometer. Dengan sepeda motornya yang sudah tua itu, setiap hari ayah bekerja di luar kota. Ayahku seorang guru. Demi pengabdiannya kepada negara, ayah tak pernah mengeluh jarak yang jauh untuk mencapai tempat kerjanya.
            Mereka adalah hartaku yang paling berharga. Orang tuaku. Sejak aku pindah ke tempat ini, ibu sering mengunjungiku. Paling tidak seminggu sekali dia pergi ke sini. Sebenarnya aku kasihan kepada ibu. Tempat ini terlalu jauh dari rumahku. Tapi, berapa kali ku cegah pun, ibuku akan tetap menjengukku. Benar-benar ibu yang baik bukan?
            Ku lihat gerbang di sebelah kanan. Masih belum terbuka. Huh, terlambat setengah jam dari biasanya. Aku bosan berada di sini. Andai saja ada yang bisa aku lakukan. Huft! Mentari semakin menampakkan kekuasaannya di atas sana. Peluh semakin bercucuran. Tak sedikit orang yang lalu lalang mengomel tak jelas tentang cuaca hari ini.
            Ku lihat sekeliling sekali lagi. Ada segerombolan anak yang bermain layang-layang dengan cerianya. Masa-masa itu, aku ingin kembali ke masa-masa ceria itu. Masa-masa di mana aku bisa berlari, bermain, bernyanyi, sepuasku! Sekarang? Huh, apa enaknya?
            Semuanya serba diatur. Semuanya serba berantakan. Iya bukan? Zaman sekarang mah serba individualis. Semua orang serba mementingkan urusannya sendiri. Bahkan jarang sekali yang saling sapa padahal mereka saling kenal. Ck! Untung ibuku bukan orang seperti itu. Oh, sungguh beliau adalah ibu paling baik sedunia. Hehe. Agak melebih-lebihkan ya?
            Nah, itu dia ibu datang. Di tangan sebelah kirinya tertenteng tas kecil berwarna hitam. Sedangkan di tangan kanannya tertenteng sebuah bungkusan. Hm, kira-kira apa ya? Ketika ibu mendekat, aku tersenyum. Tapi sepertinya dia tidak melihat senyumku.
Ibu semakin memendekkan langkah menujuku. Terlihat jelas wajah lelahnya. Keriput yang menghiasi wajah teduhnya juga mulai bertambah. Ibu mengeluarkan bungkusan yang dibawanya. Bunga lili. Bunga kesukaanku.
Ibu tersenyum. Ku balas senyum singkatnya. Menurut ibu, senyumku sangat manis, karena aku mempunyai lesung pipi. Lalu, diletakkan bungkusan itu di atas pusara yang bertuliskan namaku.
            Ya, aku sudah mati.


SELESAI

Lili Putih